Jakarta-BumiJurnalis: Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, mengingatkan aparatur sipil negara (ASN) untuk mewaspadai berbagai ancaman yang dapat melemahkan birokrasi nasional. Salah satu ancaman tersebut, menurutnya, berasal dari kelompok yang ia sebut sebagai“deep state” atau musuh dalam selimut yang tidak menginginkan Indonesia memiliki birokrasi yang kuat dan berintegritas.
Pernyataan itu disampaikan Sjafrie saat memberikan pengarahan kepada 1.764 peserta Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Komponen Cadangan (Komcad) ASN di Artha Hanggar Indonesia, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (3/6/2026).
“Orang-orang di luar Indonesia, bahkan juga ada yang berada di dalam Indonesia yang kita sebut sebagai deep state. Mereka tidak suka jika birokrasi Indonesia menjadi kuat. Padahal kalian dilatih untuk memperkuat birokrasi dan menjadi teladan bagi masyarakat,” ujar Sjafrie.
Menurutnya, bekal bela negara yang diterima para peserta Komcad ASN harus menjadi modal penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai pengaruh yang berpotensi mengganggu persatuan bangsa maupun kinerja pemerintahan.
Sjafrie menegaskan bahwa ASN merupakan bagian penting dari negara yang harus menjaga loyalitas kepada bangsa dan konstitusi. Karena itu, ia mengingatkan para peserta agar tidak mudah terpengaruh oleh ideologi maupun paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
“Birokrat adalah milik negara. Ada pihak-pihak yang tidak ingin birokrasi Indonesia menjadi kuat. Karena itu, kewaspadaan harus terus dijaga,” tegasnya.
Selain mengingatkan soal ancaman ideologi, Sjafrie juga meminta para ASN Komcad untuk menjadi teladan di lingkungan kerja dan kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, identitas sebagai Komcad tidak harus ditunjukkan melalui atribut militer, melainkan melalui sikap, integritas, serta perilaku yang mencerminkan nilai-nilai bela negara.
“Kamu sebagai ASN Komcad harus menjadi panutan, minimal di lingkungan kerja dan maksimal di lingkungan kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Di akhir arahannya, Sjafrie menekankan pentingnya menjaga kehormatan sebagai aparatur negara. Ia menjelaskan bahwa penghormatan dan kehormatan merupakan dua hal yang berbeda.
Menurutnya, penghormatan sering kali melekat pada jabatan dan dapat bersifat sementara. Sementara kehormatan merupakan nilai yang dibangun melalui integritas dan perilaku seseorang sepanjang hidupnya.
“Selama mendapatkan penghormatan karena jabatan, gunakan kesempatan itu untuk menabung kehormatan. Jangan mencederai diri sendiri dan jangan mencederai kehormatan. Ketika kehormatan itu rusak, maka seluruh penghormatan yang pernah diraih akan kehilangan maknanya,” pungkasnya.(Red)







