Jakarta –BumiJurnalis: Aktivis sosial dan pendidikan Ronald A. Sinaga atau yang lebih dikenal sebagai Bro Ron menyoroti maraknya serangan di media sosial terhadap akun Instagram @jaksapedia. Menurutnya, kritik terhadap sebuah akun yang mempublikasikan penanganan perkara korupsi seharusnya disampaikan secara argumentatif, bukan melalui serangan personal maupun kampanye yang dinilai tidak sehat.
Dalam unggahan di media sosial, Bro Ron mempertanyakan motif di balik serangan yang diarahkan kepada akun @jaksapedia. Ia menulis, “Menyerang admin akun Jaksapedia supaya apa sih?”.
Unggahan tersebut kemudian memicu beragam tanggapan dari warganet. Bro Ron kembali melontarkan sindiran bernada satir dengan kalimat, “Dan, terpancinglah si ikan lele geng bibir tronton,” yang semakin memancing perdebatan di kolom komentar.
Menurut Bro Ron, ruang digital semestinya menjadi wadah pertukaran gagasan dan kritik yang berbasis data, bukan arena saling menghujat. Ia juga mengingatkan pentingnya membangun budaya diskusi yang sehat serta menghormati peran media maupun akun informasi yang menyajikan perkembangan penegakan hukum.
Diketahui, Bro Ron selama ini dikenal aktif mengawal berbagai isu sosial, khususnya di bidang pendidikan. Namanya mencuat melalui berbagai kritik terhadap dugaan penyimpangan penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP), penolakan terhadap praktik pungutan liar di sekolah, serta berbagai temuan investigasi terkait dugaan penyalahgunaan kewenangan di sektor pendidikan.
Aktivitasnya tersebut beberapa kali memicu perdebatan publik, termasuk dengan sejumlah organisasi profesi pendidikan. Meski demikian, Bro Ron tetap konsisten menyuarakan pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan terhadap penggunaan anggaran publik.
Di sisi lain, perdebatan mengenai keberadaan akun-akun anonim atau yang sering disebut buzzer kembali menjadi sorotan. Sejumlah pihak menilai sebagian akun tersebut lebih banyak menyebarkan narasi provokatif, potongan gambar, maupun video yang berpotensi memicu polarisasi di ruang digital. Namun demikian, tudingan mengenai keterlibatan akun tertentu sebagai buzzer maupun afiliasinya dengan pihak tertentu perlu didukung bukti yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak dapat disimpulkan tanpa dasar yang jelas.
Perdebatan ini kembali mengingatkan pentingnya literasi digital agar masyarakat mampu memilah informasi secara kritis, mengedepankan etika dalam berdiskusi, serta menghindari penyebaran narasi yang belum terverifikasi.(Red)








