Jakarta-BumiJurnalis:Kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Green 95, memicu gelombang protes dari masyarakat. Di tengah lonjakan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter, publik menilai beban ekonomi semakin berat, terutama bagi kalangan pekerja dan pelaku usaha yang bergantung pada kendaraan bermotor.
Meski pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan harga BBM nonsubsidi berpotensi turun apabila harga minyak dunia mengalami penurunan, banyak warga menilai pernyataan tersebut belum memberikan kepastian yang menenangkan. Masyarakat mempertanyakan mengapa kenaikan harga dapat berlangsung cepat saat harga minyak dunia naik, sementara penurunan harga kerap dinantikan dalam waktu yang lebih lama.
Juru Bicara Menteri ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa mekanisme harga BBM nonsubsidi mengikuti pergerakan harga minyak di pasar internasional. Namun, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredam kekecewaan masyarakat yang berharap adanya kebijakan lebih berpihak pada daya beli rakyat.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan harga BBM subsidi tetap dipertahankan sesuai arahan Presiden untuk melindungi kelompok masyarakat rentan. Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter, sementara Biosolar tetap Rp6.800 per liter.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menyatakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan fluktuasi harga minyak dunia, sekaligus memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat. Meski demikian, berbagai kalangan mendesak pemerintah dan Pertamina agar segera menurunkan harga BBM nonsubsidi apabila tren harga minyak dunia menunjukkan penurunan dalam waktu dekat.(Red)







