Jakarta-BumiJurnalis:Memperkuat pendalaman pasar obligasi nasional dengan menitikberatkan pada aspek likuiditas, transparansi, serta tata kelola yang baik, Pemerintah lakukan Strategi pembiayaan tahun 2026 dengan mengarahkan pada penguatan pasar domestik, diversifikasi sumber pendanaan, dan pengelolaan utang yang lebih prudent.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam agenda Indonesia Credit Spotlight 2026 di Jakarta, Rabu (20/05/2026)bahwa pemerintah menerapkan tiga prinsip utama dalam strategi pembiayaan 2026, yakni memprioritaskan utang domestik dalam rupiah sebesar 70–75 persen, menjaga porsi utang valuta asing di kisaran 25–30 persen, serta menerapkan pengelolaan kewajiban secara aktif atau active liability management.
Juda menjelaskan minat investor terhadap surat berharga negara Indonesia masih cukup tinggi. Surat Utang Negara (SUN) tercatat mengalami oversubscription hingga 2,4 kali, sementara Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencapai 2,8 kali. Selain itu, pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik juga mencatat arus masuk bersih sebesar Rp13,4 triliun pada April 2026.
Di pasar internasional, Indonesia juga mencatat sejumlah capaian penting, termasuk penerbitan sukuk global senilai US$2 miliar yang mengalami kelebihan permintaan hampir dua kali lipat. Pemerintah juga telah menerbitkan Samurai Bond senilai ¥172 miliar dan tengah menyiapkan penerbitan obligasi Panda serta Kangaroo untuk memperluas basis investor global.
Menurut Juda, langkah diversifikasi pembiayaan tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ia menegaskan pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas lembaga melalui Forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Bank Indonesia dan OJK. Selain itu, disiplin fiskal, pengelolaan kas yang hati-hati, serta transparansi kebijakan pembiayaan tetap menjadi fokus utama pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. (Int)












