• Home
  • Redaksi
  • Indeks
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, Oktober 3, 2026
Bumi Jurnalis
  • Login
  • Home
  • Nasional
  • Korupsi
  • Pidum
  • Politik
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Sport
  • Entertainment
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Ragam
Tak ada hasil
Tampilkan semua
  • Home
  • Nasional
  • Korupsi
  • Pidum
  • Politik
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Sport
  • Entertainment
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Ragam
Tak ada hasil
Tampilkan semua
Bumi Jurnalis
Tak ada hasil
Tampilkan semua
  • Home
  • Nasional
  • Korupsi
  • Pidum
  • Politik
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Sport
  • Entertainment
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Ragam
Home Ragam

‎Pendi Keling: Sang Singa Sumatera, Tokoh Pemuda Medan yang Bertemu Soekarno dan Memimpin Pemuda Pancasila di Tengah Gejolak 1965

admin
30 September 2026
- Ragam
0 0
‎Pendi Keling: Sang Singa Sumatera, Tokoh Pemuda Medan yang Bertemu Soekarno dan Memimpin Pemuda Pancasila di Tengah Gejolak 1965
990
VIEWS
WAShare on FacebookShare on TwitterTele

‎MEDAN – Nama M.Y. Effendy Nasution, yang lebih dikenal dengan sebutan Pendi Keling atau Fendi Keling, merupakan salah satu nama yang tidak dapat dilepaskan dari sejarah gerakan kepemudaan dan dinamika politik Kota Medan pada era 1950-an hingga 1960-an.
‎
‎Sosoknya dikenal sebagai tokoh pemuda yang memiliki pengaruh kuat di Medan. Ia kemudian menjadi salah satu figur penting dalam perkembangan awal Pemuda Pancasila di Sumatera Utara, terutama ketika Indonesia memasuki periode politik yang penuh gejolak menjelang dan sesudah peristiwa 30 September 1965.
‎
‎Julukan “Pendi Keling” melekat kuat pada dirinya. Sejumlah kajian sejarah menyebut Effendy merupakan orang Mandailing dan istilah “Keling” merupakan julukan yang berkaitan dengan warna kulitnya. Dalam sejumlah tulisan sejarah, ia bahkan disebut dengan julukan “Singa Sumatera” atau Lion of Sumatra.

‎Dari dunia pemuda Medan hingga Pemuda Pancasila

‎Sebelum menjadi tokoh organisasi yang dikenal luas, Effendy disebut telah memiliki pengaruh di kalangan kelompok pemuda Medan.
‎
‎Pada akhir 1950-an, ia terlibat dalam lingkungan Persatuan Pemuda Kota Medan (P2KM). Organisasi tersebut menjadi salah satu wadah untuk menghimpun kelompok-kelompok pemuda di Medan yang pada masa itu memiliki latar belakang dan karakter beragam.
‎
‎Perkembangan kelompok tersebut kemudian beririsan dengan Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI).
‎
‎Dalam penelitian mengenai sejarah Pemuda Pancasila Sumatera Utara, Effendy Nasution tercatat sebagai salah satu tokoh yang memainkan peranan penting dalam pembentukan dan pengorganisasian Pemuda Pancasila di Medan.
‎
‎Ia disebut dilantik sebagai pimpinan Pemuda Pancasila di Medan pada 28 Oktober 1960, bersama Yansen Hasibuan sebagai sekretaris.
‎
‎Sejumlah sumber lain mencatat perkembangan organisasi tersebut pada 1961. Perbedaan tanggal dalam berbagai sumber lebih tepat dipahami sebagai perbedaan fase pembentukan, pelantikan, dan pengembangan organisasi di Sumatera Utara.
‎
‎Di bawah kepemimpinan Effendy, jaringan pemuda yang sebelumnya berada dalam kelompok-kelompok lokal kemudian semakin terkonsolidasi dalam organisasi Pemuda Pancasila.

Baca Juga

Mengenang As Atmadi “Babeh”, Sang Guru Jurnalisme yang Mewariskan Idealisme

Meski Bantah & Klarifikasi di Podcast Akbar Faizal, Netizen Tanyakan Prestasi Aisyah

Masuk Golongan Asnaf, Ladislao Tuai Pujian Aksinya Modifikasi Ojol

‎Medan dalam pusaran politik 1965

‎Memasuki pertengahan 1960-an, situasi politik Indonesia semakin tajam.

BACA:  Milad ke-79, HMI Sumut Tegaskan Komitmen Jaga Kamtibmas dan Kawal Pembangunan

Persaingan antara kelompok politik dan kekuatan sosial yang berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) meningkat. Setelah peristiwa 30 September 1965, situasi berubah drastis.
‎
‎Di Sumatera Utara, termasuk Medan, terjadi gelombang penangkapan dan kekerasan terhadap orang-orang yang dituduh atau dianggap berhubungan dengan PKI maupun organisasi yang berafiliasi dengannya.
‎
‎Dalam sejumlah kajian sejarah, Pemuda Pancasila disebut sebagai salah satu kelompok pemuda anti-komunis yang terlibat dalam mobilisasi kekerasan di Medan dan Sumatera Utara.
‎
‎Effendy Nasution menjadi salah satu tokoh yang namanya muncul dalam konteks tersebut.
‎
‎Namun, sejarah periode ini tidak sesederhana narasi “penumpasan PKI”. Sejumlah penelitian mencatat bahwa kekerasan 1965–1966 juga menimpa orang-orang yang dituduh, dianggap, atau dicurigai memiliki hubungan dengan PKI. Banyak korban mengalami penangkapan, kekerasan, bahkan pembunuhan tanpa melalui proses peradilan.
‎
‎Karena itu, dalam melihat peran Effendy, konteks sejarah dan kesaksian dari berbagai pihak perlu ditempatkan secara hati-hati.

Kampung Kolam dan operasi anti-komunis

‎Salah satu episode yang kerap dikaitkan dengan Effendy adalah peristiwa di Kampung Kolam, Percut Sei Tuan, Deli Serdang.
‎
‎Sejumlah catatan sejarah lokal menyebut kawasan tersebut ketika itu dianggap sebagai salah satu basis massa yang berkaitan dengan PKI.
‎
‎Menurut salah satu sumber sejarah lokal, operasi terhadap kawasan tersebut pada Oktober 1965 berawal dari kediaman Effendy Nasution di kawasan Jalan Mandala By Pass, Medan.
‎
‎Operasi tersebut melibatkan sejumlah kelompok dan organisasi yang berada dalam barisan anti-komunis.
‎
‎Catatan mengenai periode tersebut menggambarkan situasi yang sangat keras. Tuduhan keterlibatan dengan PKI pada masa itu dapat berujung pada penangkapan dan kekerasan.
‎
‎Karena itu, kisah Kampung Kolam tidak hanya menjadi cerita tentang keberhasilan kelompok anti-PKI, tetapi juga bagian dari sejarah kelam kekerasan politik di Sumatera Utara.

Pertemuan dengan Bung Karno

‎Di tengah pergolakan tersebut, terdapat satu kisah menarik mengenai pertemuan Effendy Nasution dengan Presiden Soekarno.
‎
‎Kisah ini berasal dari kesaksian yang kemudian dicatat dalam penelitian sejarah.
‎
‎Effendy disebut pernah ditahan selama sekitar 21 hari setelah muncul persoalan yang oleh pemerintah pusat ketika itu dipandang berkaitan dengan isu rasial.
‎
‎Setelah keluar dari tahanan, Effendy kemudian dipanggil ke Jakarta untuk menghadap Presiden Soekarno.
‎
‎Menurut kesaksian yang dicatat dalam penelitian tersebut, Effendy bertemu dengan sejumlah pejabat sebelum akhirnya menghadap Bung Karno.
‎
‎Dalam pertemuan itu, Soekarno disebut mempertanyakan sikap Effendy dan bahkan menuduhnya bersikap rasialis.
‎
‎Effendy membantah tuduhan tersebut.
‎
‎Ia menjelaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya terdiri dari berbagai kelompok masyarakat. Menurut kesaksiannya, keberadaan anggota dari berbagai latar belakang etnis menjadi salah satu argumen yang ia gunakan untuk membantah tuduhan tersebut.
‎
‎Pertemuan itu disebut berlangsung hampir dua jam.
‎
‎Kemudian muncul bagian paling terkenal dari kisah tersebut.
‎
‎Menurut kesaksian yang dicatat dalam penelitian sejarah, Soekarno kemudian menyampaikan kepada Effendy:
‎
‎“Effendi! Saya harap kamu bantu Saya untuk mengamankan kawasan Sumatera Utara.”
‎
‎Kutipan tersebut menarik karena menggambarkan bagaimana seorang tokoh pemuda lokal seperti Effendy dipandang memiliki pengaruh yang cukup besar di Sumatera Utara.
‎
‎Namun demikian, dialog tersebut sebaiknya tetap disebut sebagai kesaksian sejarah yang tercatat dalam penelitian, bukan sebagai kutipan resmi dari stenogram pidato atau arsip Istana yang telah terverifikasi secara independen.

BACA:  Virus LGBT & Konten Negatif Marak di Medsos, Waspadai Akun Penyebar

Dari jalanan Medan menuju panggung politik

‎Pengaruh Effendy tidak berhenti pada dunia kepemudaan.Setelah pergolakan politik 1965, posisinya semakin kuat. Pada periode berikutnya ia masuk ke arena politik dan pemerintahan.

‎Sejumlah kajian mencatat keterlibatannya dalam lembaga perwakilan pada masa transisi menuju Orde Baru.
‎
‎Keterlibatan tersebut menunjukkan perubahan posisi Effendy: dari seorang tokoh pemuda dengan basis massa di Medan menjadi figur yang memiliki akses ke ruang politik nasional.
‎
‎Sementara itu, Pemuda Pancasila berkembang menjadi salah satu organisasi kepemudaan dengan jaringan luas di Indonesia.
‎
‎Bagi Sumatera Utara, nama Effendy tetap menjadi bagian penting dalam fase awal perkembangan organisasi tersebut.

BACA:  Dalami Peredaran Narkoba di Phantom KTV, 'Ratu Pil Ekstasi' Ditangkap

Warisan sejarah yang kontroversial

Membicarakan Pendi Keling berarti membicarakan salah satu periode paling rumit dalam sejarah Indonesia modern.
‎
‎Ia dapat dipandang sebagai tokoh pemuda yang mempunyai kemampuan mengorganisasi massa dan memainkan peran penting dalam perkembangan Pemuda Pancasila di Sumatera Utara.
‎
‎Namun, pada saat yang sama, namanya juga muncul dalam sejarah kekerasan politik anti-komunis setelah 1965. Dua sisi tersebut tidak dapat dipisahkan dari konteks zamannya.

‎Sejarah 1965 bukan hanya tentang pertarungan politik antara kelompok yang mendukung dan menentang PKI. Ia juga merupakan sejarah tentang masyarakat sipil yang terlibat, aparat keamanan, organisasi massa, penangkapan, pembunuhan, dan berbagai bentuk kekerasan yang meninggalkan luka panjang.
‎
‎Karena itu, menyebut Effendy sekadar sebagai “orang yang menghabisi PKI” akan menyederhanakan sejarah yang jauh lebih kompleks.
‎
‎Lebih tepat melihatnya sebagai salah satu tokoh pemuda anti-komunis yang mempunyai peranan penting dalam mobilisasi politik dan organisasi massa di Sumatera Utara pada masa pergolakan 1965–1966.

Akhir perjalanan Sang Pendi Keling

‎Effendy Nasution terus dikenang sebagai salah satu tokoh awal Pemuda Pancasila di Sumatera Utara.
‎
‎Ia kemudian menyerahkan kepemimpinan organisasi kepada generasi berikutnya dan tetap memiliki tempat dalam sejarah perkembangan organisasi kepemudaan tersebut.
‎
‎M.Y. Effendy Nasution meninggal dunia pada 26 Agustus 1997.
‎
‎Puluhan tahun setelah kepergiannya, nama Pendi Keling masih muncul dalam berbagai pembahasan mengenai sejarah Medan, Pemuda Pancasila, serta pergolakan politik Sumatera Utara pada dekade 1960-an.
‎
‎Bagi sebagian orang, ia adalah simbol keberanian pemuda Medan dan salah satu tokoh yang ikut membangun fondasi Pemuda Pancasila.
‎
‎Bagi peneliti sejarah, ia adalah figur yang harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas: sejarah pembentukan organisasi massa, pertarungan politik, dan kekerasan 1965–1966.
‎
‎Di situlah sosok Pendi Keling—“Singa Sumatera”—menjadi menarik untuk dikaji. Bukan hanya karena kisahnya tentang dunia pemuda Medan, pertemuannya dengan Soekarno, atau perannya dalam Pemuda Pancasila, tetapi karena perjalanan hidupnya bersinggungan langsung dengan salah satu periode paling menentukan sekaligus paling kontroversial dalam sejarah Indonesia. (Red)

Tags: ‎Pendi KelingSang Singa SumateraTokoh Pemuda Medan yang Bertemu Soekarno dan Memimpin Pemuda Pancasila di Tengah Gejolak 1965
SendShare111Tweet69Share
Kembali

Meneropong Lingkaran Advokat Ali Nurdin yang Terseret Pusaran Skandal Eks Jampidsus Febrie

Baca Juga

Mengenang As Atmadi “Babeh”, Sang Guru Jurnalisme yang Mewariskan Idealisme
Ragam

Mengenang As Atmadi “Babeh”, Sang Guru Jurnalisme yang Mewariskan Idealisme

19 Juli 2026
Susno Duadji Kritik Dugaan Pengangkatan Kerabat Menteri PU sebagai Komisaris BUMN
Korupsi

Meski Bantah & Klarifikasi di Podcast Akbar Faizal, Netizen Tanyakan Prestasi Aisyah

17 Juli 2026
Masuk Golongan Asnaf, Ladislao Tuai Pujian Aksinya Modifikasi Ojol
Nasional

Masuk Golongan Asnaf, Ladislao Tuai Pujian Aksinya Modifikasi Ojol

17 Juli 2026
Pernah Hina Pedagang Es, Gus Miftah Disebut Terima Rp100juta Hasil Korupsi
Korupsi

Pernah Hina Pedagang Es, Gus Miftah Disebut Terima Rp100juta Hasil Korupsi

15 Juli 2026
Sengketa Pulau Kecil Berpenduduk 500 Jiwa, Incaran Lapak Industri Kasino & Prostitusi
Ekonomi

Sengketa Pulau Kecil Berpenduduk 500 Jiwa, Incaran Lapak Industri Kasino & Prostitusi

13 Juli 2026
PMMP Buka Suara Soal Peran Kaesang di Tengah Lilitan Utang Rp2,8 Triliun
Ekonomi

PMMP Buka Suara Soal Peran Kaesang di Tengah Lilitan Utang Rp2,8 Triliun

13 Juli 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tak ada hasil
Tampilkan semua

Populer

  • Sempat Dibidik Kortastipidkor, Ketua DPC Peradi Bandung Ali Nurdin Bantah Terlibat di Pusaran Kasus Eks Jampidsus Febrie

    Sempat Dibidik Kortastipidkor, Ketua DPC Peradi Bandung Ali Nurdin Bantah Terlibat di Pusaran Kasus Eks Jampidsus Febrie

    281 shares
    Share 112 Tweet 70
  • Mahasiswa Ungkap Dugaan Berbagai Pelanggaran Lingkungan, Desak Bupati Deliserdang Copot Kadis LH

    279 shares
    Share 112 Tweet 70
  • Piala Dunia 2026 Usai, Anggaran Hak Siar Rp 1,3 Terus Dikecam

    280 shares
    Share 112 Tweet 70
  • Kasus 2 PRT di Benhil, Mengungkap Dugaan Sosok Majikan: Pengacara Oknum Polisi Narkoba hingga Caleg Gagal Partai Gerindra di Tangsel

    280 shares
    Share 112 Tweet 70
  • Meneropong Lingkaran Advokat Ali Nurdin yang Terseret Pusaran Skandal Eks Jampidsus Febrie

    280 shares
    Share 112 Tweet 70
  • JAM INTEL Lakukan Pengamanan Pembangunan Strategis Proyek Koperasi Desa Merah Putih Senilai Rp251 Triliun

    279 shares
    Share 112 Tweet 70
  • Warga di Bantaran Sungai Deli Diimbau Tidak Buang Sampah dan Pertimbangkan Relokasi

    279 shares
    Share 112 Tweet 70
  • Masuk Golongan Asnaf, Ladislao Tuai Pujian Aksinya Modifikasi Ojol

    278 shares
    Share 111 Tweet 70

Terpopuler

  • Diduga Terindikasi Korupsi Program MBG, Ini Kata Dek Gam…

    Diduga Terindikasi Korupsi Program MBG, Ini Kata Dek Gam…

    291 shares
    Share 116 Tweet 73
  • Kejati Jambi Dalami Korupsi DPRD Merangin, Ahli Mulai Diperiksa

    289 shares
    Share 116 Tweet 72
  • “Mas Bahlil Ganteng”: Ketika Hujatan Berubah Jadi Popularitas Massal

    285 shares
    Share 114 Tweet 71
  • Dukung Gerakan Indonesia ASRI, Bunda Yin Sebut Kantor Gerindra Sumut Menjadi Contoh

    284 shares
    Share 114 Tweet 71
  • Kasus 2 PRT di Benhil, Sosok Majikan AVP Jadi Tersangka Pekerjakan Anak di Bawah Umur

    284 shares
    Share 114 Tweet 71
  • Kejatisu Didesak Usut Dugaan Mafia MBG di Tapteng-Sibolga, Nama Hasva Pasaribu Ikut Disorot

    283 shares
    Share 113 Tweet 71
  • Erni Sitorus Diteriaki “Pembohong” Saat Dialog dengan Mahasiswa, ‘Mau Sampai Kapan Berbohong?’

    283 shares
    Share 113 Tweet 71
  • Kuasa Hukum CRAB Laporkan Bank Mandiri ke OJK, Tuding Ada Pencairan Dana Rp123 Miliar Tanpa Hak

    282 shares
    Share 113 Tweet 71
  • Harga Emas Batangan Terkoreksi, Antam Turun Rp21 Ribu per Gram

    282 shares
    Share 113 Tweet 71
  • KPK Tangkap Kepala Imigrasi Jakarta Barat Ronald Arman Saat OTT

    282 shares
    Share 113 Tweet 71
Bumi Jurnalis

© 2026 BumiJurnalis.com - Mengabarkan Fakta, Mencerdaskan Bangsa.

Navigasi

  • Home
  • Redaksi
  • Indeks
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Follow Us

Tak ada hasil
Tampilkan semua
  • Home
  • Nasional
  • Korupsi
  • Pidum
  • Politik
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Sport
  • Entertainment
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Ragam

© 2026 BumiJurnalis.com - Mengabarkan Fakta, Mencerdaskan Bangsa.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist