MEDAN – Di balik lahirnya banyak jurnalis di Sumatera Utara, serta ditengah gerusan profesi jurnalis serta kebebasan berpendapat dalam memberikan informasi serta edukasi saat ini, terdapat sosok yang mungkin tidak selalu tampil di depan kamera atau menjadi pusat perhatian.
Namun, jejak pemikiran, ketegasan, dan dedikasinya terus hidup dalam karya-karya para muridnya. Sosok itu adalah Almarhum As Atmadi, yang akrab disapa Babeh.
Bagi banyak orang, Babeh bukan sekadar wartawan senior. Ia adalah orang tua, sahabat, mentor, sekaligus guru kehidupan. Puluhan tahun ia melalang melintang di berbagai media besar di Sumatera Utara, mengabdikan hidupnya untuk dunia jurnalistik dengan penuh integritas dan keberanian.
Hingga akhirnya, kami yang hari ini bernaung dalam salah satu surat kabar harian cetak di kota Medan beruntung mendapatkan keberkahan atas ilmu dan dedikasinya hingga akhirnya saat ini terinspirasi membentuk redaksi Media Bumijurnalis.com setelah kepergiannya.
Di ruang redaksi, di lapangan, hingga di warung kopi tempat diskusi berlangsung, Babeh tak pernah lelah menanamkan nilai-nilai dasar jurnalistik. Ia mengajarkan bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal menulis berita, melainkan mengemban amanah untuk menyampaikan kebenaran kepada publik.
Dari tangan dinginnya, banyak jurnalis belajar memahami insting jurnalistik, bagaimana membangun kepekaan terhadap sebuah peristiwa, mengembangkan kemampuan investigative reporting, memahami prinsip cover both sides, serta mengenal dunia undercover reporting yang menuntut kecermatan, etika, dan keberanian luar biasa.
Didikannya terkenal keras. Tegurannya tajam. Kritiknya sering kali terasa pedas. Namun, semua itu lahir dari kasih sayang seorang guru yang ingin murid-muridnya tumbuh menjadi wartawan yang memiliki integritas, keberanian, dan idealisme.
Babeh selalu mengingatkan bahwa wartawan tidak boleh menjadi corong kepentingan, melainkan penjaga nurani masyarakat. Baginya, berita harus lahir dari fakta, diverifikasi dengan jujur, dan ditulis dengan tanggung jawab.
Banyak yang kini menyadari bahwa setiap nasihat, setiap koreksi, bahkan setiap kemarahan Babeh merupakan bekal berharga yang terus dikenang hingga hari ini.
Tak luput, Babeh juga mengingatkan suatu hal yang paling berat ketika wartawan berhadapan dengan momen yang akrab disebut ‘Politik redaksi’ di tengah zaman yang akan datang.
Kebijaksanaan akan menuntun kepada suatu jawaban dalam bersikap atas benturan ‘poltik redaksi’.
Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam. Namun, ilmu, keteladanan, dan nilai-nilai yang diwariskannya akan terus hidup dalam setiap langkah para muridnya. Inilah makna salah satu amalan yang tidak terputus sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim No. 1631).
Semoga ilmu jurnalistik yang telah beliau wariskan menjadi ilmu yang bermanfaat dan terus mengalir sebagai pahala jariyah hingga hari kiamat.
Allah SWT juga berfirman:
“Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan semua orang yang beriman pada hari terjadinya hisab.”(QS. Ibrahim: 41).»
Serta doa yang dianjurkan untuk kaum muslimin yang telah wafat: “Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ mudkhalahu, waghsilhu bil ma’i wats-tsalji wal barad, wa naqqihi minal khathaya kama naqqaitats tsaubal abyadha minad danas.”
Al-Fatihah untuk Almarhum As Atmadi “Babeh”.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, melapangkan alam kuburnya, menjadikannya taman dari taman-taman surga, serta menempatkannya bersama orang-orang yang beriman, para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.
Terima kasih, Babeh
Ilmu, ketegasan, keberanian, dan idealisme yang engkau wariskan akan terus hidup dalam setiap karya jurnalistik yang menjunjung kebenaran. Engkau telah pergi menghadap Sang Khalik, tetapi nilai-nilai yang engkau tanamkan akan terus menjadi cahaya bagi generasi wartawan berikutnya.
Penulis: Murid yang pernah merawatmu, Edison Tamba/Edoy








