Padang Pariaman-BumiJurnalis: Sebuah mahakarya arsitektur Islam kini berdiri megah di Nagari Ketaping, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Masjid Al-Fauzan yang mengusung desain menyerupai kapal resmi diresmikan pada 6 Juni 2026 oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, dan langsung menarik perhatian masyarakat karena keunikan bentuknya yang berbeda dari masjid pada umumnya.
Masjid ini berada di lokasi yang sangat strategis, yakni di jalur utama menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dan berada di kawasan yang berdekatan dengan landasan pacu bandara. Letaknya menjadikan Masjid Al-Fauzan mudah dikenali oleh para pengguna jalan maupun penumpang pesawat yang melintas di kawasan Batang Anai. Pemerintah daerah pun menilai keberadaan masjid ini berpotensi menjadi ikon wisata religi baru di Sumatera Barat sekaligus rest area spiritual bagi para musafir.
Pembangunan Masjid Al-Fauzan berlangsung selama hampir lima tahun. Kehadirannya bukan sekadar menghadirkan bangunan ibadah yang megah, tetapi juga mengandung filosofi yang kuat. Bentuk kapal dipilih sebagai simbol semangat bahari masyarakat Minangkabau yang sejak dahulu dikenal memiliki sejarah panjang sebagai pelaut, pedagang, dan perantau yang menjelajahi berbagai wilayah Nusantara hingga mancanegara.
Konsep arsitektur tersebut lahir dari gagasan para penggagas dan donatur yang merupakan alumni Akademi Ilmu Pelayaran (AIP). Melalui gerakan Minang Bahari, mereka ingin menghadirkan sebuah simbol kebangkitan budaya maritim Minangkabau sekaligus mengingatkan generasi muda akan pentingnya dunia pelayaran dan kemaritiman sebagai bagian dari identitas masyarakat Sumatera Barat.
Dengan tinggi bangunan mencapai sekitar 28 meter, Masjid Al-Fauzan dirancang menyerupai kapal pesiar modern lengkap dengan beberapa tingkat bangunan yang memperkuat kesan seolah kapal sedang berlayar. Di masa mendatang, kawasan di sekeliling masjid juga direncanakan memiliki kolam sehingga menciptakan efek visual seakan kapal mengapung di atas air.
Selain menjadi tempat pelaksanaan ibadah, Masjid Al-Fauzan juga disiapkan sebagai pusat pembinaan umat. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berharap masjid ini diisi dengan kegiatan salat berjamaah, pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak, kajian keislaman, serta aktivitas sosial kemasyarakatan yang mampu memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy menyebut Masjid Al-Fauzan sebagai salah satu masjid berbentuk kapal terbaik di Indonesia. Menurutnya, keunikan arsitektur tersebut harus dibarengi dengan kemakmuran masjid melalui aktivitas keagamaan yang berkelanjutan sehingga bangunan ikonik ini benar-benar menjadi pusat peradaban Islam, bukan sekadar destinasi wisata.
Sementara itu, Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis menegaskan bahwa kemegahan bangunan bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah menjadikan Masjid Al-Fauzan sebagai pusat pembinaan umat, tempat lahirnya generasi Qurani, sekaligus memperkuat identitas religius masyarakat Padang Pariaman.
Keberadaan Masjid Al-Fauzan di Nagari Ketaping kini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Padang Pariaman, tetapi juga memperkaya daftar destinasi wisata religi di Sumatera Barat. Perpaduan antara nilai spiritual, filosofi maritim, dan lokasi strategis di dekat akses menuju Bandara Internasional Minangkabau menjadikan masjid ini berpotensi menjadi salah satu landmark baru yang memperkenalkan wajah religius dan budaya Minangkabau kepada para wisatawan dari berbagai daerah.(Red)








