Jakarta-BumiJurnalis: Selama puluhan tahun, nama Salim Group identik dengan kejayaan bisnis di Indonesia. Dari produk makanan, perbankan, hingga sektor manufaktur, jejak konglomerasi ini begitu lekat dalam kehidupan masyarakat. Salah satu ikon terbesarnya adalah Indofood, perusahaan yang hingga kini masih menjadi pemimpin pasar dan bagian penting dari imperium bisnis keluarga Salim.
Namun di balik gemerlap kesuksesan yang diwariskan lintas generasi, tersimpan kisah dramatis tentang bangkit dan runtuhnya salah satu kerajaan bisnis terbesar dalam sejarah Indonesia.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa Salim Group pernah mengalami masa-masa paling kelam setelah menikmati puncak kejayaan selama lebih dari tiga dekade. Kisah tersebut tak bisa dilepaskan dari sosok pendirinya, Sudono Salim atau yang dikenal sebagai Liem Sioe Liong, serta hubungan dekat yang terjalin dengan Presiden RI ke-2, Soeharto.
Perjalanan bisnis Sudono Salim bermula dari aktivitas perdagangan dan penyediaan logistik pada masa awal kemerdekaan. Melalui perantara sepupunya, Sulardi, ia diperkenalkan kepada Kolonel Soeharto yang saat itu memimpin pasukan dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.
Dari perkenalan tersebut, terjalin kerja sama yang kemudian menjadi fondasi bagi berkembangnya jaringan bisnis Salim. Sudono Salim dipercaya memasok kebutuhan logistik pasukan, sementara hubungan keduanya semakin erat seiring perjalanan waktu.
Ketika Soeharto berhasil mengambil alih tampuk kekuasaan pada pertengahan 1960-an dan memimpin Indonesia selama era Orde Baru, bisnis Salim Group berkembang pesat. Berbagai sektor usaha berhasil dikuasai, mulai dari pangan, perbankan, properti, otomotif, hingga industri manufaktur.
Dalam buku Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016), penulis Richard Borsuk dan Nancy Chng menyebut bahwa setelah Soeharto berkuasa, Liem Sioe Liong menjadi salah satu pengusaha paling berpengaruh dan terkuat di lingkaran bisnis yang dekat dengan pemerintah.
Hubungan yang terjalin selama puluhan tahun itu menciptakan simbiosis yang saling menguntungkan. Stabilitas politik memberi ruang bagi ekspansi bisnis Salim Group, sementara jaringan bisnis raksasa tersebut menjadi salah satu penopang ekonomi nasional pada masanya.
Hasilnya, Sudono Salim menjelma menjadi orang terkaya di Indonesia. Di saat yang sama, Soeharto berhasil mempertahankan kekuasaannya selama lebih dari tiga dekade.
Roda Sejarah Berputar dengan Cepat.
Krisis moneter Asia yang meledak pada 1997 menjadi awal dari guncangan besar. Nilai tukar rupiah anjlok, sektor perbankan kolaps, dan kepercayaan publik terhadap pemerintah terus menurun. Puncaknya terjadi pada Mei 1998 ketika gelombang demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial mengguncang berbagai kota di Indonesia.
Dalam hitungan hari, fondasi yang menopang kejayaan Salim Group selama puluhan tahun ikut terguncang. Sejumlah aset perusahaan menjadi sasaran amuk massa, kantor dan fasilitas bisnis mengalami kerusakan, sementara tekanan ekonomi memaksa grup usaha tersebut melakukan restrukturisasi besar-besaran.
Kejatuhan rezim Soeharto pada 21 Mei 1998 menjadi titik balik yang mengubah peta bisnis nasional. Salim Group kehilangan sebagian besar pengaruhnya dan harus melepas sejumlah aset strategis untuk menyelesaikan kewajiban yang muncul akibat krisis.
Meski demikian, keluarga Salim tidak sepenuhnya tenggelam. Melalui proses panjang restrukturisasi dan transformasi bisnis, mereka perlahan bangkit kembali. Kini, generasi penerus keluarga Salim kembali mengelola berbagai lini usaha yang tetap menjadi pemain penting dalam perekonomian Indonesia.
Kisah Salim Group menjadi salah satu contoh paling nyata bahwa dalam dunia bisnis, kejayaan sebesar apa pun tidak pernah benar-benar abadi. Sebab, kekuatan ekonomi sering kali berjalan beriringan dengan dinamika politik, dan ketika salah satunya runtuh, dampaknya dapat mengguncang fondasi yang selama ini tampak kokoh.(Red)







