• Home
  • Redaksi
  • Indeks
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, Oktober 3, 2026
Bumi Jurnalis
  • Login
  • Home
  • Nasional
  • Korupsi
  • Pidum
  • Politik
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Sport
  • Entertainment
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Ragam
Tak ada hasil
Tampilkan semua
  • Home
  • Nasional
  • Korupsi
  • Pidum
  • Politik
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Sport
  • Entertainment
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Ragam
Tak ada hasil
Tampilkan semua
Bumi Jurnalis
Tak ada hasil
Tampilkan semua
  • Home
  • Nasional
  • Korupsi
  • Pidum
  • Politik
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Sport
  • Entertainment
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Ragam
Home Internasional

Perang AS-Israel Vs Iran Meluas, Negara Teluk Terjebak di Persimpangan

admin
3 Maret 2026
- Internasional
0 0
Kepulan asap perang AS-Israel dengan Iran. (Reuters)

Kepulan asap perang AS-Israel dengan Iran. (Reuters)

992
VIEWS
WAShare on FacebookShare on TwitterTele

JAKARTA – Langit Teluk yang biasanya menjadi simbol kemakmuran dan stabilitas kini berubah menjadi medan pertempuran.

Rudal-rudal menghantam ibu kota dan kota-kota besar di kawasan itu sebagai balasan atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.

Baca Juga

Tiga Perwira Senior dan Lima Insinyur Ditangkap dalam Dugaan Korupsi Proyek RS Militer Rp1,14 Triliun

Sengketa Pulau Kecil Berpenduduk 500 Jiwa, Incaran Lapak Industri Kasino & Prostitusi

Rudal Balistik Hantam Pangkalan Militer AS di Kuwait

Peristiwa ini tidak hanya mengguncang bangunan, tetapi juga menghancurkan citra kawasan Teluk sebagai “oase perdamaian” di tengah gurun konflik Timur Tengah.

Negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) kini berada dalam posisi yang oleh para analis disebut sebagai “pilihan mustahil” membalas serangan dan berisiko dipersepsikan berperang bersama Israel, atau tetap pasif saat kota-kota mereka terbakar dan warganya menjadi korban.

Suara dari Dalam: “Ini Bukan Perang Kami”

Mantan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani, dengan tegas memperingatkan warganegaranya untuk tidak terseret ke dalam pusaran konflik.

Dalam unggahannya di platform X, ia menegaskan bahwa negara-negara GCC “tidak boleh terseret ke dalam konfrontasi langsung dengan Iran”, meskipun ia mengakui Teheran telah “melanggar kedaulatan negara-negara anggota Dewan dan merupakan pihak agresor.”

“Ada kekuatan yang menginginkan negara-negara anggota Dewan terlibat langsung dengan Iran,” tulis Sheikh Hamad, Senin (2/3/2026).

Baca Juga : Gempur Tel Aviv! Iran Hujani Israel dengan Ratusan Rudal dan Drone, Timur Tengah Siap Meletus

“Namun, bentrokan langsung antara negara-negara anggota Dewan dan Iran, jika terjadi, akan menguras sumber daya kedua belah pihak dan memberikan kesempatan bagi banyak kekuatan untuk mengendalikan kita dengan dalih membantu kita keluar dari krisis.”

BACA:  Adab Pose Merunduk di Samping Menteri Jadi Viral, Rayan Cherki MCity : Itu Bentuk Rasa Hormat

Pernyataan ini mencerminkan sentimen luas di kawasan bahwa konflik ini bukanlah perang mereka, dan mereka tidak ingin menjadi pion dalam permainan geopolitik kekuatan besar.

Kronologi Eskalasi: Dari Kesepakatan Damai ke Serangan Rudal

Serangan Iran terjadi sebagai respons atas operasi militer gabungan AS-Israel yang mengejutkan dunia. Serangan itu dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah komandan militer senior, serta menghantam fasilitas militer dan pemerintahan di seluruh Iran. Sebuah sekolah juga menjadi sasaran, dengan korban tewas mencapai 148 orang dalam satu serangan saja.

Pembalasan Iran pun datang cepat. Rudal dan drone diluncurkan tidak hanya ke Israel, tetapi juga ke pangkalan-pangkalan AS di seluruh kawasan Teluk. Dampaknya menghantam pusat-pusat ekonomi regional:

· Tiga orang tewas di Uni Emirat Arab (UEA)
· 58 orang terluka hingga Minggu malam
· Bangunan ikonik dan bandara Dubai terkena puing rudal
· Gedung-gedung tinggi di Manama, Bahrain, ikut terdampak
· Bandara Kuwait, lingkungan di Doha, Riyadh, dan wilayah timur Arab Saudi juga tidak luput

UEA bahkan mengambil langkah diplomatik dramatis dengan menarik duta besarnya untuk Israel, sinyal jelas bahwa negara-negara Teluk frustrasi dengan arah eskalasi yang tidak terkendali.

Diplomasi Gagal: Ketika Perdamaian Hanya Berjarak Jam

Yang paling menyakitkan bagi negara-negara Teluk adalah kenyataan bahwa perdamaian hampir tercapai. Oman, yang selama ini dikenal sebagai mediator kawasan, telah memfasilitasi perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran.

Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad al-Busaidi, bahkan menyatakan bahwa perdamaian sudah “dalam jangkauan” setelah Iran sepakat untuk tidak menimbun uranium yang diperkaya dan mengencerkan cadangannya secara drastis.

BACA:  "Perang Dunia III di Ambang Pintu! Rusia Buka Suara soal Serangan AS ke Iran: Trump Munafik!"

Namun hanya beberapa jam kemudian, rudal-rudal AS-Israel justru diluncurkan, menghancurkan tidak hanya bangunan tetapi juga harapan.

Al-Mudahka, analis yang dikutip Al Jazeera, mempertanyakan logika di balik eskalasi ini. Ia mengungkapkan bahwa Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, telah melobi Washington secara intensif agar tidak menggunakan pangkalan-pangkalan di Teluk untuk operasi militer melawan Iran. Upaya diplomatik tingkat tinggi ini seolah sia-sia.

Dilema Mematikan: Antara Legitimasi dan Kedaulatan

Monica Marks, profesor politik Timur Tengah di New York University Abu Dhabi, menggambarkan situasi ini dengan analogi yang tajam “Bagi warga dan para pemimpin di kawasan Teluk, menyaksikan Manama, Doha, dan Dubai dibom sama aneh dan tak terbayangkannya seperti melihat Charlotte, Seattle, atau Miami dibom bagi warga Amerika.”

Rob Geist Pinfold, dosen di King’s College London, menambahkan bahwa negara-negara GCC telah berusaha keras mencegah pecahnya aksi militer.

Namun kini mereka menghadapi dilema rumit: jika terlibat dan dipandang bekerja sama dengan Israel, legitimasi mereka di mata rakyat akan hancur. Jika tetap pasif saat Iran terus melancarkan serangan, kedaulatan mereka terkikis.

“Pemerintah-pemerintah ini responsif terhadap opini publik,” kata Pinfold. “Mereka ingin terlihat melindungi rakyatnya, melindungi wilayahnya, dan melindungi kedaulatannya.”

Pinfold memperkirakan negara-negara Teluk mungkin akan merespons melalui mekanisme kolektif GCC seperti Peninsula Shield Force (PSF), yang dibentuk pada 1984 dan diperkuat menjadi Unified Military Command pada 2013.

Langkah ini akan memungkinkan mereka menunjukkan kekuatan tanpa harus terlihat “bekerja untuk Israel”.

Ancaman Eksistensial: Lebih dari Sekadar Perang

Kekhawatiran paling mendalam para pemimpin Teluk bukan hanya rudal, tetapi apa yang terjadi setelahnya. Infrastruktur vital jaringan listrik, fasilitas desalinasi air, dan instalasi energi menjadi target potensial yang mengancam kelangsungan hidup.

BACA:  AS VS Iran, Trump: Kesepakatan Sampai Benar-Benar Selesai

“Tanpa pendingin udara dan fasilitas desalinasi air, negara-negara Teluk yang sangat panas dan kering pada dasarnya tidak layak dihuni,” tegas Marks. “Tanpa infrastruktur energi, mereka tidak akan menguntungkan secara ekonomi.”

Dampaknya tidak akan berhenti di kawasan. Al-Mudahka mengingatkan bahwa 16% energi dunia berasal dari Qatar, dan 33% minyak global mengalir dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz.

“Jika sesuatu terjadi di sini, tidak akan ada listrik di Osaka. Harga bahan bakar di China akan melonjak. Apakah Amerika Serikat akan senang jika harga minyak mencapai 200 dolar per barel?”

Pertanyaan ini menggema di tengah ketidakpastian global. Namun Pinfold berpendapat bahwa kerusakan jangka panjang yang paling berbahaya justru bersifat reputasional.

Kekuatan lunak (soft power) negara-negara Teluk sebagai kawasan stabil dan dapat diprediksi untuk investasi serta pariwisata terancam runtuh.

Al-Mudahka mencoba optimis: “Negara-negara GCC telah menghadapi banyak tantangan. GCC tidak pernah terlibat dalam perang. Mereka selalu mengambil posisi defensif.”

Ia juga mengingatkan rekam jejak Qatar dalam memfasilitasi dialog, termasuk perundingan Amerika Serikat-Taliban yang mengakhiri perang terpanjang Amerika.

Jalan Terjal di Persimpangan

Saat ini, negara-negara Teluk berusaha menavigasi jalan tengah yang hampir tidak mungkin. Mereka ingin menunjukkan kekuatan untuk melindungi kedaulatan, tetapi tanpa memicu perang habis-habisan. Mereka ingin tetap netral, tetapi serangan telah memasuki wilayah mereka.

Dengan Peninsula Shield Force sebagai opsi, dengan pengalaman diplomasi sebagai modal, dan dengan kesadaran bahwa nasib kawasan bahkan energi dunia berada di ujung tanduk, para pemimpin Teluk harus membuat pilihan yang akan menentukan masa depan generasi mendatang.

Satu hal yang pasti: dunia sedang menyaksikan, dan harga minyak sedang menghitung. (FD)

Tags: #BeritaInternasional#DilemaDiplomasi#EnergiGlobal#GCC#Geopolitik#kitamedandotcom#KonflikASIsraelIran#KrisisTeluk#NegaraTeluk#PerangDunia#PerangTimurTengah
SendShare111Tweet70Share
Kembali

GIS Medan Ajak 70 Ojol Wanita Buka Puasa Bersama, Doakan Kemerdekaan Palestina

Lanjut

Pemkab Simalungun Berbuka Puasa di Bosar Maligas, Bupati Serap Aspirasi Warga

Baca Juga

Tiga Perwira Senior dan Lima Insinyur Ditangkap dalam Dugaan Korupsi Proyek RS Militer Rp1,14 Triliun
Internasional

Tiga Perwira Senior dan Lima Insinyur Ditangkap dalam Dugaan Korupsi Proyek RS Militer Rp1,14 Triliun

17 Juli 2026
Sengketa Pulau Kecil Berpenduduk 500 Jiwa, Incaran Lapak Industri Kasino & Prostitusi
Ekonomi

Sengketa Pulau Kecil Berpenduduk 500 Jiwa, Incaran Lapak Industri Kasino & Prostitusi

13 Juli 2026
Rudal Balistik Hantam Pangkalan Militer AS di Kuwait
Internasional

Rudal Balistik Hantam Pangkalan Militer AS di Kuwait

13 Juli 2026
PSSC, Langkah Jeka Saragih Bangun Mimpi Atlet Daerah
Internasional

PSSC, Langkah Jeka Saragih Bangun Mimpi Atlet Daerah

13 Juli 2026
Legenda Haskri dan Bayang-Bayang YLA
Internasional

Legenda Haskri dan Bayang-Bayang YLA

10 Juli 2026
Anggota DPR & 47 Pejabat Ditangkap Kasus Korupsi
Internasional

Anggota DPR & 47 Pejabat Ditangkap Kasus Korupsi

7 Juli 2026
Tak ada hasil
Tampilkan semua

Populer

  • Sempat Dibidik Kortastipidkor, Ketua DPC Peradi Bandung Ali Nurdin Bantah Terlibat di Pusaran Kasus Eks Jampidsus Febrie

    Sempat Dibidik Kortastipidkor, Ketua DPC Peradi Bandung Ali Nurdin Bantah Terlibat di Pusaran Kasus Eks Jampidsus Febrie

    281 shares
    Share 112 Tweet 70
  • Mahasiswa Ungkap Dugaan Berbagai Pelanggaran Lingkungan, Desak Bupati Deliserdang Copot Kadis LH

    279 shares
    Share 112 Tweet 70
  • Piala Dunia 2026 Usai, Anggaran Hak Siar Rp 1,3 Terus Dikecam

    280 shares
    Share 112 Tweet 70
  • Kasus 2 PRT di Benhil, Mengungkap Dugaan Sosok Majikan: Pengacara Oknum Polisi Narkoba hingga Caleg Gagal Partai Gerindra di Tangsel

    280 shares
    Share 112 Tweet 70
  • Meneropong Lingkaran Advokat Ali Nurdin yang Terseret Pusaran Skandal Eks Jampidsus Febrie

    280 shares
    Share 112 Tweet 70
  • Terkesan Pelecehan Verbal ke Gubernur Sherly, JAGA MARWAH: Sahroni Belum Jera

    279 shares
    Share 112 Tweet 70
  • JAM INTEL Lakukan Pengamanan Pembangunan Strategis Proyek Koperasi Desa Merah Putih Senilai Rp251 Triliun

    279 shares
    Share 112 Tweet 70
  • Warga di Bantaran Sungai Deli Diimbau Tidak Buang Sampah dan Pertimbangkan Relokasi

    279 shares
    Share 112 Tweet 70

Terpopuler

  • Diduga Terindikasi Korupsi Program MBG, Ini Kata Dek Gam…

    Diduga Terindikasi Korupsi Program MBG, Ini Kata Dek Gam…

    291 shares
    Share 116 Tweet 73
  • Kejati Jambi Dalami Korupsi DPRD Merangin, Ahli Mulai Diperiksa

    289 shares
    Share 116 Tweet 72
  • “Mas Bahlil Ganteng”: Ketika Hujatan Berubah Jadi Popularitas Massal

    285 shares
    Share 114 Tweet 71
  • Dukung Gerakan Indonesia ASRI, Bunda Yin Sebut Kantor Gerindra Sumut Menjadi Contoh

    284 shares
    Share 114 Tweet 71
  • Kasus 2 PRT di Benhil, Sosok Majikan AVP Jadi Tersangka Pekerjakan Anak di Bawah Umur

    284 shares
    Share 114 Tweet 71
  • Kejatisu Didesak Usut Dugaan Mafia MBG di Tapteng-Sibolga, Nama Hasva Pasaribu Ikut Disorot

    283 shares
    Share 113 Tweet 71
  • Erni Sitorus Diteriaki “Pembohong” Saat Dialog dengan Mahasiswa, ‘Mau Sampai Kapan Berbohong?’

    283 shares
    Share 113 Tweet 71
  • Kuasa Hukum CRAB Laporkan Bank Mandiri ke OJK, Tuding Ada Pencairan Dana Rp123 Miliar Tanpa Hak

    282 shares
    Share 113 Tweet 71
  • Harga Emas Batangan Terkoreksi, Antam Turun Rp21 Ribu per Gram

    282 shares
    Share 113 Tweet 71
  • KPK Tangkap Kepala Imigrasi Jakarta Barat Ronald Arman Saat OTT

    282 shares
    Share 113 Tweet 71
Bumi Jurnalis

© 2026 BumiJurnalis.com - Mengabarkan Fakta, Mencerdaskan Bangsa.

Navigasi

  • Home
  • Redaksi
  • Indeks
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Follow Us

Tak ada hasil
Tampilkan semua
  • Home
  • Nasional
  • Korupsi
  • Pidum
  • Politik
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Sport
  • Entertainment
  • Pendidikan
  • Wisata
  • Ragam

© 2026 BumiJurnalis.com - Mengabarkan Fakta, Mencerdaskan Bangsa.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist