Andai Lahir 1.000 Bobby

Daerah, Hukum32 Dilihat

PEMILIHAN judul yang teatris? Atau dengan bahasa yang mudah dipahami, berlebihan? Rasa-rasanya tidak.

Judul ini buah tangan, oleh-oleh yang saya bawa saat bertamu ke dalam ruang berpikir Gubernur Sumut, Bobby Nasution. Ruang berpikir yang jauh. Jauh sekali. Eksesif (melampaui batas) berpikir banyak orang. Hasil kontemplasi mendalam dari seorang anak muda. Berusia 35 tahun.

Di kesempatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Sumatera Utara ke-78. Di hadapan wakil rakyat, Bobby menyampaikan gagasan dan mendorong DPRD Sumut membidani lahirnya Peraturan Daerah (Perda) pelarangan penggunaan vape.

Bobby risau. Pikirannya gaduh. Temuan penggunaan narkoba melalui rokok elektrik meroket. Sumut menghadapi persoalan serius. Menurutnya, dampak yang timbul telah menyasar kualitas sumber daya manusia (SDM) generasi muda.

Bagi banyak orang ucapan Bobby mungkin sederhana. Biasa-biasa saja. Bukan menu nasi goreng spesial. Pakai telur, pakai ayam.

Tapi coba kita bedah mendalam. Jauh lagi ke dalam. Sampai ke pangkal. Pada titik itu, akan didapati, bahwa kata “sumber daya manusia” diucapkan Bobby adalah mutiara yang hilang di negeri antah berantah ini.

BACA:  Cuaca Ekstrem, Sungai Rengas & Cijayanti Meluap

Yuk, kita jalani tapak demi tapak, lembah dan lereng pemikiran mendalam anak muda ini. Generasi pertama negeri ini adalah generasi emas yang melahir bangsa besar bernama Indonesia. Kita sepakat memberi gelar mereka para pejuang.

Ada nama seperti Soekarno, Hatta, Sutan Syarir dan H Agus Salim. Mereka hanya bagian kecil dari kekayaan intelektual yang dimiliki bangsa ini. SDM mereka level langit.

Soekarno misalnya, sang prolakmator adalah perumus dasar negara Pancasila yang masih kita pakai sampai hari ini. Orator ulung dan ahli diplomasi.

Bung Hatta adalah seorang yang memiliki integritas tiada tanding. Otaknya moncer sekali. Untuk memindahkan koleksi buku bacaan Hatta dari negeri Belanda nan jauh ke Indonesia, tidak cukup satu kapal. Tapi tujuh kapal. Kemampuan Hatta yang luar biasa menunjang karirnya sebagai diplomat ulung pada perjuangan kemerdekaan Indonesia

BACA:  Satgas PKH Dalami Temuan Dana Tambang Emas Ilegal Rp992 Triliun

Di tengah keterbatasan, H Agus salim sang jenius menguasai 9 bahasa. Seorang polyglot yang membuat diplomat bangsa-bangsa Eropa
yang maju bertekuk lutut tak berdaya.

Lalu lahir generasi pascakemerdekaan. Tokoh-tokoh gerakan mahasiswa yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aktivis Mahasiswa Indonesia). Mereka mendapat gelar aktivis. Atau lebih dikenal eksponen 66.

Nama-nama beken seperti Cosmas Batubara, Akbar Tanjung, Fahmi Idris, Herman Lantang dan Arief Rahman saat itu mengisi ruang diskursus publik hingga mengantarkan para aktivis ini mengisi pemerintahan orde baru.

Lalu muncul lagi generasi 1998. Atau lebih dikenal aktivis ‘98. Ada nama seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah, Budiman Sujadmiko, Nezar Patria, Faisol Riza dan Agus Jabo Priyono. Hari ini, nama-nama beken itu duduk di kabinet Pemerintahan Prabowo-Gibran.

Pertanyaannya, apakah ada sosok yang mewakili Sumatera Utara duduk mengisi pos bergengsi itu? Jawabannya ada.

BACA:  Tangis Pasutri di Kantor Gubernur Sumut: Peserta BPJS PBI Dibebani Biaya Pengobatan Rp80jt

Ada 1,5 juta warga di Sumut terpapar narkoba. 27 persennya berusia remaja. Bonus demografi yang digaungkan menjadi visi besar Indonesia emas 2045 telah dibegal bandar narkoba. Bobby mengerti ini. Bobby paham sekali ini. Ia tahu negeri ini dilahirkan oleh mereka yang kutu buku. Bukan penghisap sabusabu.

Lalu ia bergerak. Berdiri paling depan melawan kejahatan narkoba. Menghancurkan Diskotik Marcopolo. Bobby mendorong dewan melahirkan Perda larang rokok elektrik. Yang jadi cara terbaru sindikat narkoba menghancurkan generasi ini. Generasi sakau. Generasi raya besi.

Tapi Bobby seorang sendiri. Aparat hukum masih main petak umpet. Kedipan mata pengusaha hiburan malam terlalu menggoda untuk ditolak.

Maka setelah membaca artikel ini, saya yakin tidak sedikit masyarakat yang mengangkat tangannya ke langit lalu berdoa: Ya Allah lahirkan 1.000 Bobby lagi.

*Penulis adalah alumni STIK-P, Mantan Pemred Harian Orbit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *