Jakarta-BumiJurnalis: Kreator konten mualaf asal Bilbao, Spanyol, Ladislao Camara Carranza terus mendapat apresiasi luas dari masyarakat atas aksi sosial yang dilakukannya di Indonesia. Berbeda dengan kegiatan amal pada umumnya, Ladislao memilih membantu para pekerja dengan memperbaiki dan memodifikasi kendaraan yang menjadi sumber penghasilan mereka, khususnya para pengemudi ojek online (ojol).
Di balik kiprah sosialnya saat ini, Ladislao memiliki perjalanan hidup yang penuh lika-liku. Ia pernah mengalami masa sulit setelah perceraian kedua orang tuanya. Kondisi tersebut membuatnya kehilangan arah hidup, tidak lagi mempercayai Tuhan, hingga terjerumus dalam pergaulan yang negatif.
Pada 2013, ia meninggalkan Bali menuju Jakarta dengan harapan memulai kehidupan baru. Namun kenyataan berkata lain. Kesulitan ekonomi membuatnya hidup serba kekurangan. Bahkan, ia mengaku pernah mengalami kelaparan hingga mencari makanan di tempat sampah demi bertahan hidup.
Di titik terendah itulah Ladislao kembali mempertanyakan makna kehidupan dan keberadaan Sang Pencipta. Sebuah pertemuan sederhana dengan seorang tukang ojek kemudian menjadi titik balik yang mengubah pandangannya.
Dalam sebuah percakapan mengenai Tuhan, sang tukang ojek menyampaikan logika sederhana bahwa setiap bangunan pasti memiliki pembangun, setiap lukisan memiliki pelukis, dan alam semesta yang begitu teratur tentu memiliki pencipta. Penjelasan tersebut menggugah hati Ladislao untuk kembali mencari kebenaran.
Sejak saat itu, ia mulai mempelajari Islam secara mendalam melalui buku, diskusi, serta mengamati kehidupan umat Muslim. Proses pencarian tersebut membawanya pada keyakinan baru hingga akhirnya pada 2014 ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi memeluk agama Islam.
Ladislao menegaskan bahwa keputusannya menjadi mualaf merupakan pilihan pribadi yang lahir dari proses pencarian panjang, tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun. Kini ia kerap membagikan kisah perjalanan spiritualnya sebagai inspirasi bahwa hidayah dapat datang melalui cara yang tidak pernah disangka, bahkan dari percakapan singkat dengan seorang tukang ojek.
Semangat berbagi yang dimiliki Ladislao kemudian diwujudkan melalui gerakan sosial yang berfokus pada pemberdayaan. Ia tidak sekadar memberikan bantuan berupa uang atau kebutuhan sesaat, melainkan membantu memperbaiki kendaraan para pengemudi ojek online agar kembali layak digunakan untuk mencari nafkah.
Filosofi yang dipegangnya sejalan dengan petuah bijak yang telah lama dikenal:
“Berikan seseorang seekor ikan, maka ia akan kenyang sehari. Ajari seseorang memancing, maka ia akan kenyang seumur hidup.”
Melalui prinsip tersebut, Ladislao berupaya memberikan bantuan yang memiliki dampak jangka panjang sehingga para penerima manfaat dapat kembali bekerja dan memperoleh penghasilan secara mandiri.
Gerakan sosialnya pun kini terus berkembang. Tidak hanya membantu pengemudi ojek online, Ladislao juga memberikan perhatian kepada para pemuda yang menjadi tulang punggung keluarga namun terkendala sarana transportasi untuk bekerja.
Salah satu aksi yang mendapat perhatian publik adalah ketika ia membantu seorang kuli bangunan yang sempat viral setelah sepeda motornya terbakar di sebuah SPBU. Kendaraan tersebut kemudian diperbaiki agar dapat kembali digunakan sebagai alat penunjang mencari nafkah.
Selain itu, Ladislao juga membantu seorang guru honorer yang kisahnya menjadi sorotan publik akibat penghasilannya yang sangat terbatas. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap para pejuang pendidikan yang tetap mengabdikan diri di tengah berbagai keterbatasan ekonomi.
Melalui konten-konten yang dipadukan dengan aksi nyata di lapangan, Ladislao menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya dapat menjadi sarana hiburan, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan kepedulian sosial dan mendorong semangat gotong royong dalam membantu sesama.(Red)








