Di negeri khayangan, tempat segala kisah berjalan di antara kenyataan dan dongeng, hiduplah seorang pria bernama Haskri.
Ia dikenal sebagai sosok terpandang. Kekayaan dan pengaruh membuat banyak orang menghormatinya. Di balik ketegasan yang selalu dipertontonkan di hadapan publik, tersimpan sisi lain yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya.
Haskri telah beristri. Sang istri setia mendampinginya melewati masa sulit maupun masa ketika hidup bergelimang kemewahan. Namun, kehidupan sering menghadirkan cerita yang tak pernah direncanakan.
Melalui lingkaran pertemanan, Haskri berkenalan akrab dengan Dede, seorang sahabat yang juga memiliki kehidupan mapan. Bersama Dede hadir sosok YLA, istri yang dikenal ramah, mudah bergaul, dan menjadi pusat perhatian di mana pun berada.
Kedekatan yang semula tampak biasa perlahan berubah menjadi hubungan yang melampaui batas persahabatan. Dalam istilah orang-orang khayangan, inilah saat “pucuk dicinta ulam pun tiba”. Di usia yang tak lagi muda, Haskri seolah kembali memasuki masa pubertas. Candaan, perhatian, hingga pertemuan-pertemuan kecil menjadi jembatan yang mempererat hubungan keduanya.
Di sisi lain, rumah tangga YLA dan Dede sedang berada dalam fase yang tidak baik. Keretakan hubungan membuat YLA mencari tempat untuk didengar. Haskri hadir sebagai pendengar yang selalu menyediakan waktu, sementara YLA memberikan perhatian yang selama ini terasa hilang.
Banyak orang mulai berbisik. Mereka melihat hubungan itu bukan lagi sekadar persahabatan. YLA dikenal memiliki pergaulan luas, termasuk dalam sebuah komunitas yang gemar melontarkan kritik dan hujatan kepada siapa pun yang menjadi sasaran. Di dunia nyata, barangkali komunitas seperti itu dapat disamakan dengan kelompok buzzer yang hidup dari riuhnya media sosial.
Karena Haskri memiliki pengaruh besar di negeri khayangan, kabar-kabar mengenai kedekatannya dengan YLA tak pernah benar-benar berkembang menjadi persoalan besar. Lingkaran pertemanan mereka seolah menjadi benteng yang membuat keduanya merasa aman.
Namun, setiap kisah memiliki akhir yang tak dapat ditebak.
YLA lebih dahulu dipanggil Sang Pencipta.
Kepergiannya menyisakan duka bagi banyak orang. Dede kehilangan istri yang pernah menjadi pendamping hidupnya. Keluarga kehilangan seorang anak. Sahabat kehilangan teman.
Tetapi yang paling menyita perhatian adalah kehadiran Haskri di pemakaman.
Ia berdiri dengan mata sembab. Air mata mengalir tanpa mampu dibendung. Tatapannya kosong, seolah sebagian hidupnya ikut dikuburkan bersama perempuan yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki. Banyak pelayat saling berpandangan. Ada yang berbisik lirih, ada pula yang memilih diam.
“Seolah-olah yang paling kehilangan justru bukan suaminya,” gumam seseorang di antara kerumunan.
Sejak hari itu, Haskri berubah. Ia masih menjalankan pekerjaannya, masih berbicara lantang di depan banyak orang, tetapi mereka yang mengenalnya tahu ada bagian dari dirinya yang telah hilang.
Di rumah, istrinya tetap setia menemani. Namun kesetiaan tidak selalu mampu menghapus kenangan. Bayangan YLA terus hadir dalam setiap ruang sunyi. Nama itu menjadi legenda kecil yang hidup dalam ingatan Haskri.
Yang lebih menarik, Haskri tetap terlihat berada di sekitar lingkaran komunitas yang dahulu begitu dekat dengan YLA. Ia masih bergaul dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari dunia perempuan itu. Seolah, dengan tetap berada di sana, ia sedang menjaga serpihan kenangan yang tak ingin benar-benar lenyap.
Apakah semua itu hanyalah cinta yang tak pernah selesai? Ataukah hanya penyesalan yang datang terlambat?
Tak seorang pun benar-benar mengetahui jawabannya.
Di negeri khayangan, kisah Haskri dan YLA terus diceritakan dari mulut ke mulut sebagai sebuah legenda—kisah tentang persahabatan, godaan, kesetiaan, kehilangan, dan penyesalan yang datang ketika semuanya telah berakhir.
Dan seperti setiap legenda, selalu ada bab berikutnya yang menunggu untuk diceritakan…Jika diinginkan, cerita ini dapat dikembangkan menjadi serial feature jurnalistik bersambung dengan gaya yang lebih dramatis, satiris, atau bernuansa investigatif, tetap menggunakan tokoh fiktif di negeri khayangan.
Bersambung.. . . (Part Berikutnya)








