Internasional-BumiJurnalis: Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali mengalami peningkatan ketegangan setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara terhadap sejumlah wilayah di Iran. Serangan tersebut disebut dilakukan atas perintah Presiden AS Donald Trump dan langsung memicu respons keras dari Teheran.
Pasca serangan tersebut, Iran mengumumkan penutupan total Selat Hormuz bagi seluruh jenis kapal sebagai bentuk langkah pertahanan dan protes terhadap tindakan militer Amerika Serikat.
Militer AS menyatakan serangan yang dilakukan pada Rabu (10/6/2026) malam waktu setempat merupakan respons terhadap tindakan Iran yang dinilai agresif dan terus berlanjut.
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan besar terjadi di beberapa wilayah strategis, termasuk Pulau Qeshm serta kota-kota pelabuhan di sekitar Selat Hormuz seperti Bandar Abbas dan Sirik.
Ledakan juga dilaporkan terjadi di Kota Kargan, wilayah selatan Iran, yang mengakibatkan sedikitnya dua orang mengalami luka-luka.
Iran Tutup Selat Hormuz
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menuding Amerika Serikat telah melakukan pelanggaran berulang terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dicapai pada April lalu.
Sebagai respons, IRGC menyatakan Selat Hormuz ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan. Penutupan jalur pelayaran strategis tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap lalu lintas perdagangan dunia, terutama distribusi minyak global karena banyak kapal tanker melintasi kawasan tersebut.
IRGC juga membantah klaim Amerika Serikat yang sebelumnya menyatakan telah membantu kapal-kapal melintasi jalur Selat Hormuz.
Tidak lama setelah pengumuman penutupan, IRGC menyebut terdapat dua kapal tanker minyak yang mencoba melintas secara ilegal dan menjadi sasaran serangan.
Kronologi Eskalasi AS-Iran
Peningkatan konflik ini terjadi setelah kedua negara terlibat aksi saling serang dalam pola balasan atau tit-for-tat. Ketegangan tersebut disebut dipicu oleh insiden jatuhnya helikopter Apache milik militer AS di kawasan Selat Hormuz.
Sebelum serangan udara dilakukan, Presiden Donald Trump telah memberikan pernyataan keras terhadap Iran. Ia menyebut Washington siap mengambil tindakan tegas apabila Iran terus menunda kesepakatan yang sedang dibahas.
“Kita sebenarnya sudah sangat dekat dengan kesepakatan, namun mereka terus mengulur waktu,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Presiden Iran Kecam Serangan AS
Ancaman dan tindakan militer Amerika Serikat mendapat kecaman dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Melalui unggahan di media sosial X, Pezeshkian menyebut serangan terhadap fasilitas penting Iran bukan menunjukkan kekuatan, melainkan bentuk tekanan terhadap masyarakat.
“Infrastruktur kritis adalah urat nadi masyarakat. Ancaman untuk menargetkannya, mulai dari transportasi hingga industri listrik dan air, bukanlah unjuk kekuatan melainkan tanda keputusasaan,” tulis Pezeshkian.
Ia menegaskan Iran akan tetap bertahan menghadapi tekanan maupun ancaman dari pihak luar.
“Iran, dengan mengandalkan kemampuan para spesialisnya, persatuan nasional, serta solidaritas, akan berdiri teguh melawan tekanan atau ancaman apa pun,” tegasnya.
Hingga kini, situasi di sekitar Selat Hormuz masih dalam kondisi tegang dan menjadi perhatian internasional. Kawasan tersebut memiliki peran penting bagi perekonomian dunia karena menjadi salah satu jalur utama distribusi energi global.(Red)







